Senin, 14 September 2009

Kontes Kecantikan Moral

DENGAN tubuh penuh balutan kain burqa itu, tentu sulit menerka seperti apa sosok fisik gadis yang hanya terlihat matanya itu. Bahkan Sukaina pun berani blak-blakan kepada panitya jika badannya sedikit gemuk.

Namun, justru itulah kelebihan kontes kecantikan ini. Kontes yang diikuti Sukaina al-Zayer dan wanita muda lainnya ini, malah mewajibkan untuk memakai burqa. Putri Kecantikan Moral, begitu kontes kecantikan ala Arab Saudi ini disebut.

Bagi para juri kontes ini, penampilan fisik sempurna dan wajah cantik tidaklah penting. Dalam kontes tersebut, yang dinilai adalah kesetiaan dan penghormatan kepada orang tua, bukan lenggak-lenggok seksi di atas catwalk layaknya kontes serupa di negara-negara Barat.

Penggagas kontes kecantikan moral itu adalah Khadra al-Mubarak. Dia menjelaskan bahwa ide kontes putri kecantikan ini adalah untuk menilai komitmen kontestan terhadap moralitas dalam Islam. ”Ini adalah sebuah alternatif atas sebutan kemerosotan moral di kontes kecantikan lain yang hanya memperhitungkan penampilan dan tubuh perempuan,” ujar Khadra. ”Pemenangnya tidak perlu cantik. Kami peduli pada kecantikan jiwa dan moral,” lanjutnya.

Saat pendaftaran kontes dibuka pada Sabtu pekan ini, 9 Mei 2009, sebanyak hampir 200 kontestan akan menghabiskan sepuluh pekan dengan mengikuti beberapa kelas dan diuji dengan berbagai tema. Diantara sesi kelas yang harus dijalani para kontestan bertema ”menemukan kekuatan dari dalam”; ”menjadi pemimpin”; dan ”Ibu, surga berada di telapak kakimu.”

Para calon ratu kecantikan moral itu juga akan meluangkan waktu sehari penuh dengan ibu mereka di rumah. Di situ, mereka akan dinilai oleh juri perempuan tentang interaksi mereka dengan sosok yang melahirkan mereka. Karena kontes ini tidak ditayangkan di televisi dan tidak ada satu pria pun yang dilibatkan, maka para kontestan bisa menanggalkan jubah dan jilbab mereka.

Ini adalah kali kedua Kontes Putri Kecantikan Moral di Arab Saudi digelar. Jumlah peserta pun naik tiga kali lebih banyak dibanding saat kontes ini digelar pertama pada 2008 yang hanya diikuti 75 peserta. Kontes yang terbuka untuk perempuan berusia 15 hingga 25 tahun ini bakal mengumumkan pemenang dan dua runner-up pada Juli. Peraih mahkota Ratu Kecantikan Moral akan berhak membawa pulang 2.600 dollar AS (sekitar Rp 27 juta) dan hadiah lain. Sementara masing-masing runner-up akan mendapat 1.300 dollar AS (sekitar Rp 14 juta).

Pemenang kontes tahun lalu, Zahra al-Shurafa, mengatakan bahwa kontes moral ini memberi manfaat bagi perempuan untuk lebih menghormati dan menghargai orang tua. ”Saya bilang ke kontestan tahun ini bahwa menjadi pemenang tidak penting,” kata Zahra, mahasiswa jurusan Bahasa Inggris. ”Yang penting adalah mematuhi orang tua kalian,” lanjut perempuan berusia 21 tahun ini.

Pendaftaran Kontes kecantikan moral tahun ini pertama dibuka Sabtu lalu di kota Safwa, yang mayoritas beragama Islam Shia. Namun, tahun ini, tercatat 15 warga Islam Suni juga ikut serta. ”Ini adalah sesuatu yang indah,” kata Khadra.

Sebagai sebuah fenomena baru, Kontes Kecantikan Moral ini menjadi sebuah alternatif di era yang sudah tidak lagi mengenal dominasi seperti saat ini. Selama ini tafsir kecantikan selalu direpresentasikan oleh Triple B (Brain, Beauty, and Behaviour) pada pentas Miss Universe. Dan, secara dekonstruktif, Miss Beautiful Morals menyuguhkan kecantikan yang selama ini terpinggirkan atau bahkan terpendam oleh dominasi dan glamor Miss Universe yang telah digelar sejak 1952.

Dalam kontes Miss Universe, para peserta dari berbagai belahan dunia dinilai bukan hanya dari kecantikannya namun termasuk juga kepandaiannya dan sopan santunnya—Brain, Beauty, dan Behavior. Namun yang justru tersuguhkan secara kasat mata di publik adalah pada aspek fisik, terutama kala para kontestas lenggak-lenggok mengenakan pakaian seksi hingga kadang hanya berbikini.

Nah, Kontes kecantikan Miss Beautiful Moral ini merupakan representasi dari upaya dunia Islam mencegah format serta definisi kecantikan bergaya Barat itu. Selama ini arus budaya Barat begitu gencar menyerbu Jazirah Arab lewat jaringan media massa dan internet. Kesadaran untuk mencegahnya pun bermunculan. Bahkan upaya ini tidak hanya pada aspek di dunia kontes kecantikan saja, namun juga merambah dunia tarik suara.

Sebuah kanal musik Islami yang dimiliki oleh seorang pebisnis dari Mesir dikabarkan akan meluncurkan kontes menyanyi pekan ini untuk menandingi ketenaram American Idol. Tak hanya itu, beberapa ulama di Jazirah Arab telah lazim menjelma sebagai selebritis dalam acara talk-show yang mengadopsi Oprah Winfrey di Amerika Serikat. dji, bbs


Sumber :

www.surabayapost.co.id/?mnu=berita&act...id...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar